WAYANG BEBER
Wayang berasal dari kata
bayangan dan wayang artinya adalah gambaran. Sejarah wayang yaitu dimulai pada
wayang batu yang berada pada relief candi. Karena tidak dapat di bawa kemana –
mana, kemudian berkembang menjadi wayang lontar. Daun tersebut ukurannya cukup
kecil dan hal itu menyebabkan tidak banyak orang yang dapat menyaksikan dengan
jelas ketika dimainkannya wayang tersebut. Maka dari itu mulailah berkembang
wayang beber. Wayang ini diperkirakan ditemukan pada sekitar tahun 1300 M, 1400
M, dan 1600 M. setelah wayang beber, muncullah wayang kulit kemudian wayang
orang.
Sejarah
singkat wayang beber Pacitan dimulai ketika ada seorang pengembara yang bernama
Naladerma mencoba mengapdi kepada raja untuk menyembuhkan anak Prabu Brawijaya.
Anak Sang Raja tersebut mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh. Sudah banyak
orang yang berusaha menyembuhkannya, namun tidak ada satupun yang berhasil.
Hingga Prabu Brawijaya akan memberikan hadiah apapun yang diminta bagi yang
berhasil menyembuhkan anaknya. Dan yang berhasil menyembuhkan anak Sang Raja
adalah Naladerma. Prabu Brawijaya memerintahkan Naladerma untuk tinggal
selamanya di Kerajaan Majapahit. Namun, Naladerma menolak tawaran tersebut
karena dia teringat akan perkataannya yaitu sebelum mendapatkan wahyu dari Sang
Maha Pencipta dia tidak akan kembali. Prabu Brawijaya tetap ingin memberikan
hadiah kepada Naladerma. Namun, dia menolak apapun yang diberikan. Pada suatau
hari anak Sang Prabu sedang mengambar dan dengan mahirnya Naladerma
menceritakan isi dari gambar tersebut. Keahlian Naladerma membuat kagum Prabu
Brawijaya. Dia pun disuruh menceritak sebuah lukisan pusaka kerajaan. Naladerma
menceritakan kisah percintaan antara Panji Jaka Kembang dan Dewi
Sekartaji. Dari situlah Naladerma
diangkat sebagia dalang pusaka kerajaan majapahit dan dial ah yang menjadi
dalang pertama wayang beber. Tetapii Naladerma tidak mau menjadi dalang pusaka
majapahit. Dia pun kembali ketempat kelahirannya dengan membawa pusaka yang di
berikan Prabu Brawijaya. Setelah sampai di rumah, Naladerma menceritakan
pengalamannya serta merundingkan tata cara menjalankan pusaka tersebut. Maka
tercetuslah nama Gilir Ringgit
sebagai tata cara menjlankan wayang beber.
Dalam cerita wayang beber
terdapat 24 jagong yang menceritakan
kisah cinta Panji Jaka Kembang dan Dewi Sekartaji, tetapi pada jagong ke 24 tidak boleh dibuka karena dianggap sangat
sakral. Dalang yang memainkan wayang ini adalah turun – temurun dan tidak boleh
seorang perempuan. Berikut adalah silsilah dalang wayang beber
Naladerma
Nalangsa
Citrawangsa
Gandayuta
Singa
Nangga
Trunadangsa
Gandalesana
Setralesana
Perempuan
( tidak boleh, maka nunggak semi )
Dipalesana
Palesana
Pasetika
Sarnen
Sumardi
Perempuan
( tidak boleh, maka nunggak semi )
Handoko
Sumardi
telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa sebelum mengajarkan kepada cucunya yaitu
Handoko. Namun, sebelum meninggal beliau sempat mengajarkan kepada Rudhi
Prasetyo dan mewasiatkan untuk mengajarkan kepada Handoko. Dengan demikian
dalang wayang beber saat ini adalah Rudi Prasetyo dan beliau bukanlah keturunan
Naladerma. Tetapi beliau peduli terhadap wayang beber dan menjalankan sebuah
sanggar budaya pelestari wayang beber pacitan yang bernama “Sanggar Lung” lung yang artinya
memberi. Siapaun boleh belajar dan bergabung dalam sanggar tersebut.
Sebelum
melakukan pertunjukan wayang beber yang pakem ada ritual khusus. Bila tidak dilakukan
ada masalah saat pertunjukkan berlangsung yaitu turunnya hujan. Sesaji yang
digunakan dalam ritual tersebut adalah , jadah jojoh ditumpang panggang, pisang
raja, kembang setaman, dan menyan madu. Sedangkan alat musik yang mengiringi
cerita wayang beber lebih sederhana yaitu hanya 4, diantaranya : gendang,
kenong, gong, dan rebab. Wayang yang masuk 20 keajaiban Jawa Timur ini biasanya
ditampilkan dalam ruwatan, kaul atau nazar, acara – acara pemerintah, hari jadi
kota Pacitan dan ketika ada tamu kenegaraan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar