Selasa, 05 April 2016

WAYANG BEBER



 





Wayang berasal dari kata bayangan dan wayang artinya adalah gambaran. Sejarah wayang yaitu dimulai pada wayang batu yang berada pada relief candi. Karena tidak dapat di bawa kemana – mana, kemudian berkembang menjadi wayang lontar. Daun tersebut ukurannya cukup kecil dan hal itu menyebabkan tidak banyak orang yang dapat menyaksikan dengan jelas ketika dimainkannya wayang tersebut. Maka dari itu mulailah berkembang wayang beber. Wayang ini diperkirakan ditemukan pada sekitar tahun 1300 M, 1400 M, dan 1600 M. setelah wayang beber, muncullah wayang kulit kemudian wayang orang.
Sejarah singkat wayang beber Pacitan dimulai ketika ada seorang pengembara yang bernama Naladerma mencoba mengapdi kepada raja untuk menyembuhkan anak Prabu Brawijaya. Anak Sang Raja tersebut mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh. Sudah banyak orang yang berusaha menyembuhkannya, namun tidak ada satupun yang berhasil. Hingga Prabu Brawijaya akan memberikan hadiah apapun yang diminta bagi yang berhasil menyembuhkan anaknya. Dan yang berhasil menyembuhkan anak Sang Raja adalah Naladerma. Prabu Brawijaya memerintahkan Naladerma untuk tinggal selamanya di Kerajaan Majapahit. Namun, Naladerma menolak tawaran tersebut karena dia teringat akan perkataannya yaitu sebelum mendapatkan wahyu dari Sang Maha Pencipta dia tidak akan kembali. Prabu Brawijaya tetap ingin memberikan hadiah kepada Naladerma. Namun, dia menolak apapun yang diberikan. Pada suatau hari anak Sang Prabu sedang mengambar dan dengan mahirnya Naladerma menceritakan isi dari gambar tersebut. Keahlian Naladerma membuat kagum Prabu Brawijaya. Dia pun disuruh menceritak sebuah lukisan pusaka kerajaan. Naladerma menceritakan kisah percintaan antara Panji Jaka Kembang dan Dewi Sekartaji.  Dari situlah Naladerma diangkat sebagia dalang pusaka kerajaan majapahit dan dial ah yang menjadi dalang pertama wayang beber. Tetapii Naladerma tidak mau menjadi dalang pusaka majapahit. Dia pun kembali ketempat kelahirannya dengan membawa pusaka yang di berikan Prabu Brawijaya. Setelah sampai di rumah, Naladerma menceritakan pengalamannya serta merundingkan tata cara menjalankan pusaka tersebut. Maka tercetuslah nama Gilir Ringgit sebagai tata cara menjlankan wayang beber.
Dalam cerita wayang beber terdapat 24 jagong  yang menceritakan kisah cinta Panji Jaka Kembang dan Dewi Sekartaji, tetapi pada jagong ke 24 tidak boleh dibuka karena dianggap sangat sakral. Dalang yang memainkan wayang ini adalah turun – temurun dan tidak boleh seorang perempuan. Berikut adalah silsilah dalang wayang beber
Naladerma
Nalangsa
Citrawangsa
Gandayuta
Singa Nangga
Trunadangsa
Gandalesana
Setralesana
Perempuan ( tidak boleh, maka nunggak semi )
Dipalesana
Palesana
Pasetika
Sarnen
Sumardi
Perempuan ( tidak boleh, maka nunggak semi )
Handoko
Sumardi telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa sebelum mengajarkan kepada cucunya yaitu Handoko. Namun, sebelum meninggal beliau sempat mengajarkan kepada Rudhi Prasetyo dan mewasiatkan untuk mengajarkan kepada Handoko. Dengan demikian dalang wayang beber saat ini adalah Rudi Prasetyo dan beliau bukanlah keturunan Naladerma. Tetapi beliau peduli terhadap wayang beber dan menjalankan sebuah sanggar budaya pelestari wayang beber pacitan yang bernama “Sanggar Lung” lung yang artinya memberi. Siapaun boleh belajar dan bergabung dalam sanggar tersebut.
Sebelum melakukan pertunjukan wayang beber yang pakem ada ritual khusus. Bila tidak dilakukan ada masalah saat pertunjukkan berlangsung yaitu turunnya hujan. Sesaji yang digunakan dalam ritual tersebut adalah , jadah jojoh ditumpang panggang, pisang raja, kembang setaman, dan menyan madu. Sedangkan alat musik yang mengiringi cerita wayang beber lebih sederhana yaitu hanya 4, diantaranya : gendang, kenong, gong, dan rebab. Wayang yang masuk 20 keajaiban Jawa Timur ini biasanya ditampilkan dalam ruwatan, kaul atau nazar, acara – acara pemerintah, hari jadi kota Pacitan dan ketika ada tamu kenegaraan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar