Senin, 06 Juni 2016

CULTURE OF PACITAN

“PARADISE OF JAVA” memang patut dijadikan city branding untuk Kabupaten yang satu ini. Pariwisata di Kabupaten Pacitan saat ini sedang meloncat. Tingkat kunjungan wisatawan meningkat pesat dari tahun 2013 hingga 2016. Jika bertanya pada wisatawan “apa sih yang membuat tertarik untuk mengunjungi Pacitan?” pasti jawabnya Pantai dan Goa nya.
Jangan salah ya, Pacitan juga mempunyai budaya yang kental dan masih dipertahankan hingga saat ini. Salah satu budaya tersebut adalah upacara adat. Banyak sekali upacara adat yang ada di Pacitan dan hal tersebut dapat dijadikan daya tarik wisata khususnya bagi wisatawan mancanegara. Penasaran apa saja upacara adat yang ada di Pacitan? Yuk simak penjelasan berikutnya,,,,
 

1.   TETAKEN
 Upacara ini dilaksaakan masyarakat Gunung Lima setiap tanggal 15 Muharram/Suro di Desa Mantren – Kecamatan Kebonagung. Ritual upacara Tetaken ini merupakan upacara bersih desa atau sedekah bumi. Ritual Tetaken digambarkan ketika Kyai Tunggul Wulung (diperankan oleh juru kunci) Gunung Limo seusai bertapa turun gunung bersama murid-muridnya untuk mengabdi ditengah masyarakat. Nama Tetaken sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti teteki atau bertapa.
Sejarah Upacara ritual tetaken ini bermula ketika Kyai Tunggul Wulung bersama Mbah Brayat seusai bertapa di Gunung Lawu kemudian mereka melakukan pengembaraan dengan tujuan melakukan pengabdian dan menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Namun dalam perjalanan kedua orang ini berpisah. Mbah Brayat memilih tinggal di Sidomulyo, sementara Kyai Tunggul Wulung memilih lokasi yang sepi yaitu dipuncak Gunung Lima. Diceritakan juga bahwa Kyai Tunggul Wulung adalah orang pertama yang melakukan babat alas di kawasan Gunung Lima yang kelak kemudian disebut Mantren.
Itulah sedikit cerita tentang upacara ritual tetaken yang dilakukan warga di Gunung Limo yang mempunyai nilai kesakralan tersendiri dan merupakan kekayaan budaya (local wisdom) Pacitan yang harus dilestarikan.

2. BARITAN
Upacara adat ini milik masyarakat Dusun Wati, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung. Upacara adat ini diadakan sebagai upacara tolak bala di saat ada bencana atau wabah penyakit. Upacara adat ini diadakan setiap bulan Suro. Baritan berasal dari kata rid/wiridan  yang berarti memohon petunjuk atau perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan. Namun akibat pengaruh dielek setempat kata rid/wiridan berubah menjadi Baritan. Baritan ini dalam bahasa setempat berarti tolak bala.
Dalam upacara baritan ini dilakukan melalui beberapa syarat diantaranya upacaranya harus diadakan di perampatan jalan dusun karena barada di tangah-tengah sehingga memudahkan masyarakat berkumpul yang berasal dari empat arah jalan dusun yang merupakan bertemunya poncoboyo barada di perempatan tersebut, sehingga masyarakat bisa mengusir dari situ , melaksanakan penyembelihan kurban berupa kambing jantan (kendhit), ayam tulak sejodho dan berbagai sesajen lainnya.
Baritan sebagai suatu adat, tentu merupakan hasil warisan dari nenek moyang/pendahulu dari masyarakat Dusun Wati Desa Gawang Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan. Upacara baritan ini dilaksanakan dua tahun sekali tepatnya pada hari Senin bulan Sura/Muharam tahun Jawa/Islam dengan hari baik menurut perhitungan juru kunci, waktunya pada siang hari disaat matahari di tengah-tengah bumi kurang lebih jam 12.00 WIB sampai selesai. Akan tetapi pada saat ini upacara tersebut dilaksanakan selain sebagai bagian dari tradisi juga sebagai penarik minat wisatawan minat khusus untuk datang dan menikmati sajian budaya asli Kabupaten Pacitan.

3. JANGKRIK GENGGONG
Jangkrik Genggong berasal dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo  yang terletak di pesisir pantai yang mayoritas penduduknya adalah nelayan. Upacara adat yang diselenggarakan di lokasi TPI Tawang Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo Pacitan ini diadakan setiap hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) di Bulan Longkang (Dulkangidah).
Upacara Adat Jangkrik Genggong merupakan upacara perayaan untuk anak laki-laki sebagai tanda bahwa anak tersebut telah beranjak dewasa. Usai dilaksanakan upacara adat ini, anak tersebut boleh turun ke laut untuk berlayar.
Yang unik dari salah satu kekayaan wisata budaya Pacitan ini selalu ada ikan kakap merah sebagai hidangan wajib yang harus disajikan. Pada malam puncaknya, selalu dilaksanakan pagelaran seni Tayub. dan menurut mitosnya, Sang Ratu Penguasa Pantai Selatan selalu meminta Gendhing Jangkrik Genggong kepada sesepuh desa (dukun). Itulah sebabnya, upacara adat ini disebut Jangkrik Genggong.
4. CEPROTAN
Upacara adat Ceprotan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Pacitan khususnya masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo selalu dilaksanakan tiap tahun pada hari Senin Kliwon, bulan Dzulqaidah (Longkang). Acara ini dimaksudkan untuk mengenang pendahulu Desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa tersebut dari bala dan memperlancar kegiatan pertanian yang merupakan mata pencaharian utama bagi kebanyakan penduduknya. Lokasi upacara Ceprotan yaitu di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kota Pacitan, dan jaraknya kurang lebih 40 km ke arah barat dari pusat kota.
5. MANTU KUCING
Upacara adat “Mantu Kucing” merupakan upacara adat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menurunkan hujan di daerah orang-orang yang mengadakan upacara tersebut. Upacara ini diadakan bila tiba musim kemarau yang berkepanjangan dan berdampak negative terhadap warga masyarakat yang masih agraris.
 Upacara adat ini diangkat dari tradisi masyarakat desa Purworejo, Kecamatan Pacitan, Kab. Pacitan. Kejadian masa silam (tidak disebutkan tahun kejadian) dikisahkan seorang warga desa yang memperoleh “wisik” (petunjuk dari Allah) agar turun hujan, maka mereka melaksanakan upacara “Mantu Kucing”. Waktu itu para sesepuh musyawarah untuk melaksanakan upacara “Mantu Kucing”.
 Istilah “Mantu Kucing” tiada ubahnya seperti orang mengadakan upacara pernikaan dua anak manusia. Hanya khusus dalam keperluan ini yang dinikahkan adalah dua ekor kucing. Kucing betina berasal dari desa Purworejo, dan kucing jantan diambil dari desa tetangga yang bersebelahan yakni desa Arjowinangun. Upacara ini secara tradisional diadakan di tepi sebuah aliran sungai, tempat kucing betina yang dinikahkan dipelihara. Upacara “Mantu Kucing” ini ditradisikan di Pacitan, dalam satu kegiatan untuk meminta hujan kepada Tuhan pencipta langit dan bumi. Upacara ini diadakan bila wilayah tersebut dilanda musim kemarau yang berkepanjangan.
 Kisah di atas menyerupai upacara adat di kerajaan Yunani Purba, yakni sewaktu kemarau panjang rakyatnya mengadakan upacara menyembelih kambing jantan (tragos) agar dewa Zeus berkenan menurunkan hujan di daerah yang dilanda kemarau panjang. Sekalipun yang dinikahkan seekor kucing, masyarakat Pacitan menyebut dua ekor kucing yang dinikahkan itu dengan istilah “penganten” (Jawa: manten)
6. JEMBLUNG SOMOPURO

Upacara adat Jemblung Somopuro adalah tradisi yang dilakukan pada saat-saat tertentu di desa Bungur kecamatan Tulakan kabupaten Pacitan. Upacara ini dilakukan untuk mengenang seniman jemblung yang bertapa di Gua Somopuro.
Jemblung adalah sebuah sarana dakwah Islam yang dibawa dari Banyumas, Jawa Tengah. Proses dakwah makin menyebar dan meluas, sehingga jemblung akhirnya sampai di daerah Pacitan, Ponorogo, Kediri dan Blitar. Jemblung merupakan seni teater tutur. Dalam satu pementasan, kesenian jemblung melibatkan empat hingga lima seniman/seniwati, umumnya satu wanita dan sisanya laki-laki.
Kesenian jemblung tidak menggunakan gamelan atau alat musik lain, sehingga murni mengandalkan kemampuan tutur para pemainnya, baik dalam percakapan maupun untuk suara latar. Inilah yang menjadikan kesenian ini unik, dari suara 4-5 pemainnya bisa menghasilkan seluruh tokoh dan suara latar yang disajikan dalam sebuah pementasan.
Semangat seniman jemblung dalam menyebarkan ajaran Islam inilah yang diperingati dalam upacara adat. Diharapkan, generasi penerus bangsa mampu mempunyai semangat yang pantang menyerah dalam berkarya dan berbakti pada nusa dan bangsa.
7.  BADUT SINAMPURNO
Upacara adat Badut Sinampurna adalah tradisi yang berkembang di desa Ploso, kecamatan Tegalombo, kabupaten Pacitan.Upacara adat ini dilakukan sebagai upaya untuk tolak bala dan ruwatan atas gangguan dari makhluk halus yang ada di sekitar. Pada hakikatnya, acara Badut Sinampurno adalah ungkapan doa bersama untuk menjalani kehidupan yang sempurna.
Badut Sinampurno dilakukan warga Ploso pada saat-saat tertentu, misalnya saat menginjak dewasa atau akan melangsungkapn upacara pernikahan. Sebagai sebuah bersih desa, upacara ini juga menggunakan sesaji. Sesaji merupakan manifestasi nyata dari kesungguhan atas doa yang dipanjatkan. Sesaji yang disiapkan dalam acara Badut Sinampurno adalah sego tumpeng, sego golong dan ingkungi. Sesaji ini  akan diberikan doa atasnya, lalu dibagikan kepada warga untuk dinikmati secara bersama-sama.

Badut Sinampurno adalah upacara adat yang secara nyata tidak hanya memberikan berkah kepada sang punya hajat, namun juga kepada masyarakat luas. Dalam upacara adat ini, banyak pula manfaat yang dapat diambil, sebut saja semangat kebersamaan dalam menyukseskan acara yang ada. Kebersamaan inilah yang ditunjukkan penjagaan atas tradisi yang telah dilaksanakan oleh para leluhur.
8. METHIK PARI
Di setiap kecamatan di wilayah kabupaten Pacitan memiliki upacara adat atau ritual-ritual yang di adakan minimal setahun sekali. Upacara semacam ini biasanya berupa ritual bersih desa, sedekah bumi dan lain-lain. Salah satunya yang ada di kecamatan Bandar, yaitu yang biasa di kenal dengan istilah "Methik pari".

Upacara adat Methik Pari atau Petik Pari biasa dilakukan oleh masyarakat dari Desa Jeruk yang berada di kawasan puncak pegunungan Kecamatan Bandar yang mayoritas matapencaharian penduduknya adalah bertani. Upacara adat ini dikenal sudah ada sebelum zaman penjajahan, yaitu pada zaman nenek moyang kita mulai mengenal bercocok tanam khususnya padi.
Upacara adat Methik Pari merupakan perwujudan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas pemberian limpahan rejeki berupa panen padi. Upacara ini dilakukan menjelang panen tiba tepatnya sehari sebelum panen raya, dan biasanya dilaksanakan pada malam hari.
Dan pada bagian inti dari Upacara adat ini di juga di tampilkan tarian "methik pari". Hiburan semacam ini biasanya hanya diadakan untuk acara memetik (memanen) padi. Yang juga bertujuan untuk menghormati Dewi Sri dan Joko Sadono.
9.  Srumbung Mojo
Upacara adat Srumbung Mojo berlangsung di dusun Mojo desa Punung kecamatan Punung kabupaten Pacitan. Dinamai dusun Mojo karena dahulu di tempat ini banyak dijumpai pohon buah Mojo.
Upacara adar Srumbung Mojo berpijak dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat setempat. Cerita tersebut berkisah antara Kyai Santri dan Dewi Ratri. Alkisah, Dewi Ratri berguru pada Kyai Santri, salah satunya tentang alat musik Gender (salah satu perangkat gamelan). Ada kabar yang berhembus terkait kedekatan Kyai Santri dan Dewi Ratri. Dalam kabar tersebut, Dewi Ratri dinyatakan berselingkuh dengan Kyai Santri. Kabar tak sedap itu sampailah ke telinga suami Dewi Ratri. Terbakar cemburu, emosi suami Dewi Ratri memuncak dan akhirnya membunuh Kyai Santri. Sebelum ajalnya datang, Kyai Santri berujar jika darah yang menetes dari tubuhnya berwarna putih, maka dia tidak bersalah.
Benar saja, darah yang keluar dari tubuh Kyai Santri berwarna putih. Akhirnya, suami Dewi Ratri percaya akan kesetiaan istrinya. Dia pun menyesal atas apa yang diperbuatnya secara tergesa-gesa. Jasad Kyai Santri dimakamkan dan dikenal dengan nama Srumbung Mojo. Konon, Srumbung Mojo merupakan sebuah tempat yang dipercaya memberikan tuah, sehingga sampai saat ini masih ada warga yangn datang untuk nyadran (bersih kubur) dan nguari ujar (menunaikan nadzar/janji). Upacara adat ini biasa dilaksanakan pada bulan Longkang/Selo bertepatan dengan hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon.

sumber by DISBUDPARPORA PACITAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar