Rabu, 15 Juni 2016

“KETHEK OGLENG” TARIAN MENYERUPAI TINGKAH KERA KHASNYA KABUPATEN PACITAN

Pacitan, daerah kelahiran mantan Presiden RI yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono ini memilki daya tarik wisata yang beragam. Daya tarik tersebut meliputu wisata alam, wisata minat khusus, wisata budaya dan wisata kuliner.  Pada kesempatan kali ini penulis menceritakan salah satu wisata budaya yang ada di Kabupaten Pacitan yaitu kesenian Kethek Ogleng. Kesenian Kethek Ogleng adalah kesenian rakyat yang berasal dari Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupeten Pacitan. kesenian ini dimunculkan dihadapan public pada tahun 1963. Jadi saat ini usia kesenian ini menginjak 54 tahun. Walapun terbilang belum memiliki usia yang lama dari pada kesenian jawa yang lainnya tetapi, kesenian ini patut dilestarikan dan dijadikan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Pacitan.

Seni Kethek Ogleng  diciptakan oleh Bapak Sutiman pada akhir tahun 1962. Beliau lahir pada tanggal 4 Mei 1945 di Dusun Banaran, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Awal mula muncul ide tergagasnya kesenian ini yaitu ketika Sutirman terkesan dengan tingkah laku kera yang dilihatnya ketika diladang, namun kera tidak muncul lagi. Akibat rasa penasaran terhadap kera, kemudian pria yang mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) ini mengunjungi Kebun Binatang Sri Wedari Surakarta. Ditempat tersebut beliau hanya mengamati perlikau kera. Mulai dari dari perilaku kera ketika makan, bercanda, berjalan, bergelantung dan lain – lain. Menurutnya hal tersebut sangat menarik dan lucu. Maka muncullah pikiran untuk membuat tarian yang menggambarkan tingkah laku kera.
Tidak udah bagi Sutiman untuk mengembangkan idenya. Perlu kerjasama dengan seniman pengrawit serta dukungan motivasi dari berbagai pihak. Beliau berlatih setiap hari agar actingnya menyerupai tingkah laku kera. Bahkan orang yang belum mengetahui jika dia sedang berlatih menganggapnya gila. Sutiman terus belajar dengan tekat dan keyakinan yang teguh bahwa usahanya akan berhasil.
Merasa kemampuannya sudah cukup baik, Sutiman pun mengutarakan maksudnya kepada paguyuban seni karawitan. Awalnya usulannya ditolak bahkan idenya sempat di cemooh. Namun dengan usaha dan terus meyakinkan pihak paguyuban karawitan. Akhirnya dia pun terima dengan syarat jangan ada niatan untuk melecehkan nama paguyuban.
Latihan pun dimulai. Tidak mudah menciptakan alunan music pengiring sebuah tarian. Namun Sutiman terus dan terus berusaha. Latihan dilakukan seminggu dua kali dirumah Bapak Kromorejo al Jaiman pemilik gamelan yang juga ketua paguyuban seni karawitan di Cangkringan Dusun Banaran Desa Tokawi pada malam hari.
Selama dua bulan latihan, respon baik dari semua kalangan mulai datang. Hal tersebut menjadi semangat tersendiri untuk menyempurnakan tarian tersebut. Dari dukungan kepala dusun yang menjabat kala yaitu almarhum Gunoikomo menyampaikan dukungan moral dan meminta supaya bersedia tampil sebagai uji coba di acara hajatan salah satu warga setempat. Sutiman pun menyanggupi permintaan pak kepala dusun. Namun ada hal yang kini menjadi beban “Pakaian apa yang akan digunakan nanti” saat itu Sutiman menyampaikan berita bagus kepada ketua paguyupan karawitan yaitu Bapak Kromorejo. Dia juga menyampaikan masalah kostum apa yang akan digunakan. Berkat saran dan bantuan dari Bapak kromorejo berupa bantuan mencarikan kostum di daerah Solo. Pakaian yang digunakan adalah pakaian tari hanoman.
Nama Kethek Ogleng sendiri berasal dari nama kera yang dalam bahasa jawa berarti Kethek dan bunyi iringan music “nong gleng” kemudian disingkat ogleng sehingga menjadi “Kethek Ogleng”
Setelah tampil perdana di acara salah satu warga setempat, banyak tanggapan positif dari masyarakat. Tawaran manggung pun mulai membanjiri baik dari tingkat kecamatan hingga Kabupaten. Namun sayang ketika seni Kethek Ogleng tengah Berjaya, muncul peristiwa G30S PKI. Perekonomian dan kegiatan warga pun lumpuh total termasuk seni Kethek Ogleng. Sutiman sempat putus asa. Tetapi ketika keadaan mulai membaik, seni Kethek Ogleng mulai  diberdayakan kembali itu sekitar tahun 1971.  Seni Kethek Ogleng tampil perdana setelah fakum pada  acara gebyar kampaye partai golkar.
Sejak saat itu kesenian Kethek Ogleng kembali Berjaya dan seiring perkembangan jaman banyak yang peduli untuk melestarikan kesenian ini. Sutiman pun juga mengajarkan ilmunya kepada orang lain supaya ada penerusnya. Dalam perkembangannya seni tari Kethek Ogleng banyak menambahkan adegan – adegan baru seperti memadukan seni dengan cerita legenda kisah Panji Asmoro Bangun dengan Galuh Condro Kirono Putri. Walaupun hal tersebut tanpa sepengetahuan Sang pencipta tarian yaitu Sutiman. Sempat merasa kecewa akan hal tersebut dia berniat berhenti menekuni seni tari karyanya.  Setelah nonaktif selama beberapa tahun dengan bujukan lurah Tokawi pada saat itu yaitu Daman Harjo Prawiro semangat Sutiman muncul kembali.
Untuk mengikuti perkembangan jaman dan menghargai pihak yang telah peduli terhadap seni Kethek Ogleng, tarian tersebut dikereasi dengan cerita lengenda. Penambahan adegan berupa tari blendrong dan berakhir kudangan.  Adegan tersebut dikemas berdasarkan criteria seni yang mudah dipahami masyarakat Pacitan. pementasannya dilakukan berurutan dari atraksi Kethek Ogleng, kemudian tari Blendrong, dan berakhir tari Tompe. Perpaduan ketiga jenis seni tersebut menjadi sebuah pertunjukan seni tari yang mengisahkan tentang hubungan asmara antara Panji Asmoro Bangun dan Galuh Condrokirono, sebagaimana adegan seni Kethek Ogleng yang marak diperankan saat ini.
Itulah sedikit kisah sejarah munculnya seni Kethek Ogleng, semoga bermanfaat dan kita sebagai masyarakat harus peduli terhadap kesinian daerah kita.

Salam Budaya J J J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar