Pacitan,
daerah kelahiran mantan Presiden RI yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono ini
memilki daya tarik wisata yang beragam. Daya tarik tersebut meliputu wisata
alam, wisata minat khusus, wisata budaya dan wisata kuliner. Pada kesempatan kali ini penulis menceritakan
salah satu wisata budaya yang ada di Kabupaten Pacitan yaitu kesenian Kethek
Ogleng. Kesenian Kethek Ogleng adalah kesenian rakyat yang berasal dari Desa
Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupeten Pacitan. kesenian ini dimunculkan
dihadapan public pada tahun 1963. Jadi saat ini usia kesenian ini menginjak 54
tahun. Walapun terbilang belum memiliki usia yang lama dari pada kesenian jawa
yang lainnya tetapi, kesenian ini patut dilestarikan dan dijadikan kebanggaan
tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Pacitan.
Seni
Kethek Ogleng diciptakan oleh Bapak
Sutiman pada akhir tahun 1962. Beliau lahir pada tanggal 4 Mei 1945 di Dusun
Banaran, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Awal
mula muncul ide tergagasnya kesenian ini yaitu ketika Sutirman terkesan dengan
tingkah laku kera yang dilihatnya ketika diladang, namun kera tidak muncul
lagi. Akibat rasa penasaran terhadap kera, kemudian pria yang mengenyam
pendidikan Sekolah Rakyat (SR) ini mengunjungi Kebun Binatang Sri Wedari
Surakarta. Ditempat tersebut beliau hanya mengamati perlikau kera. Mulai dari
dari perilaku kera ketika makan, bercanda, berjalan, bergelantung dan lain –
lain. Menurutnya hal tersebut sangat menarik dan lucu. Maka muncullah pikiran
untuk membuat tarian yang menggambarkan tingkah laku kera.
Tidak
udah bagi Sutiman untuk mengembangkan idenya. Perlu kerjasama dengan seniman
pengrawit serta dukungan motivasi dari berbagai pihak. Beliau berlatih setiap
hari agar actingnya menyerupai tingkah laku kera. Bahkan orang yang belum
mengetahui jika dia sedang berlatih menganggapnya gila. Sutiman terus belajar
dengan tekat dan keyakinan yang teguh bahwa usahanya akan berhasil.
Merasa
kemampuannya sudah cukup baik, Sutiman pun mengutarakan maksudnya kepada
paguyuban seni karawitan. Awalnya usulannya ditolak bahkan idenya sempat di
cemooh. Namun dengan usaha dan terus meyakinkan pihak paguyuban karawitan. Akhirnya
dia pun terima dengan syarat jangan ada niatan untuk melecehkan nama paguyuban.
Latihan
pun dimulai. Tidak mudah menciptakan alunan music pengiring sebuah tarian. Namun
Sutiman terus dan terus berusaha. Latihan dilakukan seminggu dua kali dirumah
Bapak Kromorejo al Jaiman pemilik gamelan yang juga ketua paguyuban seni
karawitan di Cangkringan Dusun Banaran Desa Tokawi pada malam hari.
Selama
dua bulan latihan, respon baik dari semua kalangan mulai datang. Hal tersebut
menjadi semangat tersendiri untuk menyempurnakan tarian tersebut. Dari dukungan
kepala dusun yang menjabat kala yaitu almarhum Gunoikomo menyampaikan dukungan
moral dan meminta supaya bersedia tampil sebagai uji coba di acara hajatan
salah satu warga setempat. Sutiman pun menyanggupi permintaan pak kepala dusun.
Namun ada hal yang kini menjadi beban “Pakaian apa yang akan digunakan nanti”
saat itu Sutiman menyampaikan berita bagus kepada ketua paguyupan karawitan
yaitu Bapak Kromorejo. Dia juga menyampaikan masalah kostum apa yang akan digunakan.
Berkat saran dan bantuan dari Bapak kromorejo berupa bantuan mencarikan kostum
di daerah Solo. Pakaian yang digunakan adalah pakaian tari hanoman.
Nama
Kethek Ogleng sendiri berasal dari nama kera yang dalam bahasa jawa berarti
Kethek dan bunyi iringan music “nong gleng” kemudian disingkat ogleng sehingga
menjadi “Kethek Ogleng”
Setelah
tampil perdana di acara salah satu warga setempat, banyak tanggapan positif
dari masyarakat. Tawaran manggung pun mulai membanjiri baik dari tingkat
kecamatan hingga Kabupaten. Namun sayang ketika seni Kethek Ogleng tengah Berjaya,
muncul peristiwa G30S PKI. Perekonomian dan kegiatan warga pun lumpuh total
termasuk seni Kethek Ogleng. Sutiman sempat putus asa. Tetapi ketika keadaan
mulai membaik, seni Kethek Ogleng mulai diberdayakan kembali itu sekitar tahun 1971. Seni Kethek Ogleng tampil perdana setelah
fakum pada acara gebyar kampaye partai
golkar.
Sejak
saat itu kesenian Kethek Ogleng kembali Berjaya dan seiring perkembangan jaman
banyak yang peduli untuk melestarikan kesenian ini. Sutiman pun juga
mengajarkan ilmunya kepada orang lain supaya ada penerusnya. Dalam perkembangannya
seni tari Kethek Ogleng banyak menambahkan adegan – adegan baru seperti
memadukan seni dengan cerita legenda kisah Panji Asmoro Bangun dengan Galuh
Condro Kirono Putri. Walaupun hal tersebut tanpa sepengetahuan Sang pencipta
tarian yaitu Sutiman. Sempat merasa kecewa akan hal tersebut dia berniat
berhenti menekuni seni tari karyanya. Setelah
nonaktif selama beberapa tahun dengan bujukan lurah Tokawi pada saat itu yaitu
Daman Harjo Prawiro semangat Sutiman muncul kembali.
Untuk
mengikuti perkembangan jaman dan menghargai pihak yang telah peduli terhadap
seni Kethek Ogleng, tarian tersebut dikereasi dengan cerita lengenda. Penambahan
adegan berupa tari blendrong dan berakhir kudangan. Adegan tersebut dikemas berdasarkan criteria seni
yang mudah dipahami masyarakat Pacitan. pementasannya dilakukan berurutan dari
atraksi Kethek Ogleng, kemudian tari Blendrong, dan berakhir tari Tompe. Perpaduan
ketiga jenis seni tersebut menjadi sebuah pertunjukan seni tari yang
mengisahkan tentang hubungan asmara antara Panji Asmoro Bangun dan Galuh
Condrokirono, sebagaimana adegan seni Kethek Ogleng yang marak diperankan saat
ini.
Itulah
sedikit kisah sejarah munculnya seni Kethek Ogleng, semoga bermanfaat dan kita
sebagai masyarakat harus peduli terhadap kesinian daerah kita.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar